Wartanad.id - BANDA ACEH, 4 Februari 2026 - Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) hingga Januari 2026 sebesar 6,09%, dengan kenaikan bulanan (month to month/mtm) sebesar 3,55% pada bulan yang sama. Peningkatan tekanan harga ini disebabkan utama oleh dampak bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa daerah pada akhir November 2025, yang mengganggu jalur distribusi serta aktivitas produksi komoditas strategis.
Komoditas pangan menjadi kontributor terbesar kenaikan harga, antara lain beras, bawang merah, dan cabai merah. Selain itu, penyesuaian tarif listrik serta biaya angkutan udara juga turut memperbesar tekanan inflasi. Gangguan alur pasokan menyebabkan lonjakan harga yang cukup signifikan di beberapa wilayah kunci Aceh, termasuk Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Takengon, dan Kuala Simpang.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan bahwa faktor utama terjadinya kondisi ini adalah gangguan sistem distribusi pascabencana. "Meskipun saat ini masih ada tekanan pada harga barang, kami melihat adanya perkembangan positif seiring upaya perbaikan infrastruktur dan normalisasi alur pasokan. Dengan demikian, inflasi diharapkan dapat lebih terkendali mulai bulan depan," jelasnya.
Dalam upaya menstabilkan kondisi harga, BI bekerja sama erat dengan Pemerintah Provinsi Aceh dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi pengawasan dan pengendalian harga di pasar tradisional serta modern, pembenahan kelancaran distribusi bahan pokok, hingga pelaksanaan operasi pasar untuk menjamin ketersediaan serta daya beli masyarakat tetap terjaga.
Agus juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung upaya stabilisasi harga melalui pola berbelanja bijak. "Kita mengimbau agar masyarakat membeli barang sesuai kebutuhan sebenar-benarnya, menghindari pembelian berlebihan, serta mendukung produk pangan lokal dengan melakukan diversifikasi konsumsi. Dengan konsumsi yang bijak, kita bersama-sama dapat membantu menjaga stabilitas harga di tengah proses pemulihan sistem distribusi," tegasnya.