Koordinator Transparansi Tender Indonesia TTI Nasruddin bahar melalui siaran pers nya (04/03/26),mempertanyakan komitmen TAPA Tim Anggaran Pemerintah Aceh, Pasalnya sejak awal dalam RPJM usulan bantuan rumah dhuafa sebanyak 2.000 unit kemudian pada pengesahan APBA yang diusulkan ke Kemendagri untuk dikoreksi menjadi 1.500 unit tapi anehnya pada pelaksanaan bantuan rumah dhuafa hanya tersisa 780 unit lagi.
Sambungnya,Pemerintah Aceh terkesan tidak ikhlas atau tidak serius membantu masyarakat miskin yang belum memiliki rumah, seperti tahun 2025 yang lalu 500 unit gagal dibangun karena anggarannya dialokasikan ketempat lain bahkan berhembus isu anggaran bantuan rumah dhuafa tahun 2025 diperuntukkan untuk pembayaran bonus atlet PON Aceh.
Ia menambahkan,Sudah menjadi kebiasaan setiap tahun anggaran bantuan rumah dhuafa selalu menjadi sasaran untuk disunat baik dengan alasan efisiensi maupun dengan alasan bencana alam. alih alih ditambahkan justru semakin berkurang dari target 2.000 unit hanya tersisa 780 unit.
Jika Tim Anggaran Pemerintah Aceh benar benar berpihak kepada masyarakat kecil bukan bantuan rumah dhuafa yang menjadi sasaran, masih banyak mata anggaran yang dianggap tidak penting seperti Biaya Iklan misalnya yang mencapai puluhan milyar, Pengadaan Tong sampah, Pengadaan lampu jalan, pengadaan lain yang sifatnya tidak mendesak dan mempunyai dampak secara langsung kepada masyarakat.ucap Nasruddin Bahar
Bukan hanya bantuan rumah dhuafa yang dipangkas TPP Pegawai juga ikut direvisi padahal para pegawai sebagai pelayan masyarakat tentu berpengaruh kepada kinerja mereka dan tidak tanggung tangung nilainya mencapai Rp.100 Milyar lebih. Mereka para ASN pada umumnya sudah mengambil kredit di Bank dengan harapan cukup untuk biaya hidup sebulan dari sisa pemotongan kredit tapi faktanya berkata lain rata rata setiap ASN terkena pemotongan Rp.1 Juta perbulan bukan angka yang sedikit.tegas Nasruddin bahar