• Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Semarak Hari Santri Nasional Putihkan Blang Padang

    Oct 26, 2019, 1:12 PM WIB Last Updated 2020-01-23T13:26:38Z

    Banda Aceh - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Aceh berlangsung khitmad. Selain dihadiri Plt Gubernur Aceh dan jajaran, juga dihadiri lima ribu santri se- Aceh di lapangan Blang Padang, Banda Aceh berseragam putih dan memakai sarung.

    RAUT wajah H. Usamah El Madny, SA.g., MM, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh tampak semeringah. Dia tak henti menebar senyum dan melambaikan tangan ke arah ribuan santri yang telah tegap berdiri saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 di Lapangan Blang Padang, Kampung Baru, Kota Banda Aceh, Senin pekan lalu. 

    Melangkah pasti, Usamah El Madny bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Sekda Aceh, dr. Taqwallah dan jajaran dilingkungan Pemerintah Aceh serta sejumlah ulama karismatik Aceh mendapat tepuk tangan para santri saat memasuki arena upacara. 

    Memang ada tampilan berbeda para pejabat dilingkingan Pemerintah Aceh ketika itu. Mereka kompak berseragam baju putih dan sarung serta peci hitam seperti pakaian khas santri.

    Peringatan puncak Hari Santri Nasional ke-5 di Tanah Rencong itu, diawali dengan penampilan tarian tradisional Rapai Geleng oleh para santri. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menjadi inspektur dalam upacara tersebut.

    Para santri berbaris rapi sesuai perwakilan pesantren masing-masing di tengah lapangan. Di hadapan mereka, pimpinan pesantren, dan seluruh pejabat dari instansi Pemerintah Aceh duduk di atas panggung. Semuanya kompak mengenakan pakaian serba putih dan kain sarung ragam motif.

    Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober dieringati tiap tahun setelah Presiden Joko Widodo menetapkan melalui Kepres pada 2015. 

    Salah satu alasan utama adalah hari santri untuk memperingati peran besar kaum kiai dan kaum santri dalam perjuangannya melawan penajajah yang bertepatan dengan resolusi jihad dari Mbah KH. Hasyim pada tanggal 22 Oktober.
    KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan salah satu tokoh yang mendirikan Nahdatul Ulama, KH. Ahmad Dalan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, dan Abdul Rahman dari Matlaul Anwar.

    Resolusi jihad yang diceruskan oleh pendiri NU ini dilakukan untuk mencegah dan mengahalangi kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatas namakan NICA.

    Hari santri menjadi momen penting bagi seluruh santri Indonesia untuk selalu bermuhasabah diri, memperbaiki kualitas pribadi demi kemajuan bangsa Indonesia untuk kedepannya dengan mempelajari sejarah perjuangan tokoh-tokoh yang berkecimpung di dunia pesantren. Sehingga tidak ada lagi pandangan sebelah mata dari masyarakat terhadap pesantren.

    Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari perjuangan kaum santri dan kaum ulama. Itulah kenapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. [ADV]

    Nova Iriansyah : Pesantren Kunci Penegakan Syariat Islam di Aceh


    Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatkan bahwa pesantren akan menjadi kunci penting dalam pelaksanaan syariah Islam dan merawat perdamaian di Aceh sebagai modal membangun negeri dan santri menjadi bagian tidak terpisahkan di Aceh.

    Menurut Nova untuk mewujudkan formalisasi syariat Islam dan perdamaian di Aceh tidak terlepas dari peran pesantren. Para alim ulama, dengan elemen masyarakat Aceh lainnya, secara bersama-sama memperjuangkan syariat Islam agar dapat diterapkan secara legal formal di Aceh.

    Kemudian kajian dan dialog para santri, baik itu berlangsung dalam skala kecil maupun besar untuk membahas persoalan-persoalan keumatan, akan membentuk santri berkarakter terbuka, dan metode ini memungkinkan para santri dapat belajar dalam menerima perbedaan.

    “Khususnya di Aceh sebagai daerah yang menjalankan syariat islam, santri menjadi lokomotif pembangunan. Saat ini pemerintah sedang mengkaji atau mewacanakan kemungkinan pendidikan di dayah (pesantren) di bawah Dinas Pendidikan Dayah, bisa disatukan dengan Dinas Pendidikan Aceh,” harapnya.

    Nova Iriansyah mengingatkan tantangan berat terkait upaya pelaksanaan syariat Islam di Aceh di tengah perkembangan zaman yang bergerak sangat progresif dan melahirkan banyak permasalahan.

    Karena ini, dayah atau pesantren diharapkan mampu menjaga khazanah kearifan lokal sekaligus memperkuat pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

    “Paham liberalisme, materalisme, dan hedonisme tak terasa telah memasuki ruang dan rumah kita. Di tengah zaman yang semakin pragmatis ini, maka dayah/pesantren menjadi ruang yang sangat kondusif untuk menjaga khazanah kearifan lokal sekaligus memperkuat pelaksanaan Syariat Islam di Aceh,” kata Nova.

    Nova menyebutkan bahwa Santri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan-gerakan kebangsaan dan terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

    “Sesuai Ikrar santri yang dibacakan tadi, kita tentu mengakui bahwa santri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan-gerakan kebangsaan. Santri terlibat aktif dalam memperjuangkan berdirinya republik ini. Banyak santri pejuang kita yang gugur sebagai syuhada. Oleh karenanya mari kita apresiasi dan syukuri UU Pesantren dan penetapan Hari Santri ini,” ujar Nova.

    Menurut Nova, disahkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah menjustifikasikan eksistensi dayah/pesantren sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penyelenggaraan pendidikan nasional.

    Dalam konteks Aceh, Nova juga mengingatkan peran penting para ulama Dayah dalam pembahasan-pembahasan perdamaian Aceh.
    “Para Abu dan Tengku Dayah sangat aktif terlibat dalam upaya perdamaian Aceh. Alhamdulillah, berkat keterlibatan para ulama Dayah, akhirnya perdamaian pun tercipta di Aceh dan kini kita dapat hidup dengan aman dan damai," katanya. [ADV]

    Usamah El Madny :Kompetisi Guru Dayah Akan Diperkuat



    Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El Madny  mengatakan Dinas Pendidikan Dayah Aceh akan memperkuat penguatan konten kurikulum guna peningkatan kompetensi guru dayah, serta upaya menghadirkan life skill bagi santri.

    “Ini kita lakukan karena mereka juga generasi muda yang siap menghadapi masa depannya pascalulus dari dayah. Kita telah menyiapkan sejumlah kegiatan terkait dengan kecakapan hidup atau life skill mereka,” ungkapnya.

    Menurut Usamah santri di Aceh berjumlah 16.200 orang dengan jumlah dayah (pesantren) 1.136 dayah yang telah terakreditasi. Untuk pengajar, kata Usamah, hingga saat ini sudah memadai. Tetapi untuk tenaga pengajar di lingkungan dayah belum dibiayai seperti biaya tenaga pendidik di sekolah umum.

    “Adanya peran dan konsolidasi santri dalam membangun negeri. Berharap segala potensi yang dimiliki oleh para santri  Aceh akan terkonsolidasi dengan baik, kemudian akan didayagunakan dan didistribusikan dalam membangun Aceh masa depan,” katanya.

    Selain itu, kata Usamah santri dayah di Aceh memiliki komitmen nasionalisme yang sangat tinggi. Karena, dalam diri setiap santri terdapat Hubbul wathan minal iman, yaitu cinta tanah air bagian dari iman.

    Dia juga meminta jangan pernah ragu dengan Komitmen nasionalisme santri dayah Aceh. Santri dan Ulama Dayah Aceh telah terlibat jauh dalam proses keharmonisan masyarakat Aceh dan juga ikut menyumbangkan saran dan pendapat dalam proses perdamaian Aceh.

    Menurutnya santri dan Ulama dayah berkomitmen untuk berkontribusi di garis terdepan dalam Proses pembangunan Aceh. Bahkan, para santri sudah berperan dan terlibat jauh dalam keharmonisan masyarakat Aceh.

    “Santri merupakan bagian penting dari pembangunan menuju Aceh yang Hebat. Pemerintah Aceh akan menjalankan pendidikan dayah sama dengan pendidikan umum lainnya,” ujarnya.

    Hal itu juga sudah dituangkan dan diamanahkan dalam Qanun Pendidikan Dayah yang disahkan beberapa waktu yang lalu.
    Sehingga dalam hal penganggaran maupun sektor lainnya, pendidikan dayah juga akan menjadi prioritas.

    “Kita harapkan inilah momentum awal pendidikan dayah dan santri memiliki masa depan, peluang, dan perhatian yang sama dari Pemerintah. Infrastruktur dayah juga terus dikembangkan hingga penguatan guru dan konten kurikurum,” harap Usamah.

    Dia juga mengharapkan peringatan Hari santri Nasional ini menjadi momentum awal pendidikan dayah dan santri akan memiliki masa depan serta peluang dan perhatian dari pemerintah yang sama.

    Itu sejalan dengan lahirnya UU Pesantren dan Qanun (perda) nomor 9 tahun 2018 tentang penyelenggaraan pendidikan dayah. Menjadi kewajiban konstitusional bagi pemerintah Aceh untuk memberikan perhatian yang sama kepada pendidikan dayah seperti halnya kepada pendidikan umum. [ADV]



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini