Wartanad.id - Aceh Barat — Malam 17 Ramadhan 1447 Hijriah di Batee Puteh tidak hanya menjadi malam khatam Al-Qur’an, tetapi juga malam lahirnya tekad untuk menjadikan bacaan sebagai gerakan nyata.
Dalam suasana khidmat dan penuh haru, jamaah Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) menggelar Khatam Al-Qur’an, buka puasa bersama, serta menyalurkan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Namun bagi AKQ, khatam bukanlah akhir, melainkan titik awal perjalanan yang lebih dalam.
Pembina AKQ, Ustadz Syamsul Kamal, menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada lantunan suara.
“Kami tidak ingin hanya khatam di lisan.
Kami ingin Al-Qur’an hidup dalam tindakan. Jika ayat hanya dibaca tetapi tidak menggerakkan hati, maka kita belum benar-benar berjalan bersama Al-Qur’an.”
Momentum tersebut menjadi fondasi gerakan sosial berkelanjutan.
Akademi Kehidupan Qur’ani insyaAllah akan menjalankan program santunan fakir miskin setiap bulan melalui konsep sederhana namun kuat:
10 Anggota AKQ Membantu 1 Fakir Miskin
Program ini dilaksanakan melalui gerakan “segenggam beras”. Setiap anggota menyisihkan satu genggam beras setiap kali memasak di rumah. Beras tersebut dikumpulkan dalam setiap pertemuan pengajian Beut Droe, yang dilaksanakan satu kali dalam sepekan.
Pada minggu keempat setiap bulan, beras yang terkumpul diserahkan kepada Bunda Khidmah AKQ, Irma Fitri, Amd, untuk ditambah dengan bahan pokok lainnya sebelum disalurkan kepada fakir miskin yang paling membutuhkan.
Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa kepedulian bukan tentang jumlah, melainkan tentang hati yang terjaga.
Bunda Imarah AKQ, Supiani, menyampaikan bahwa majelis ilmu harus melahirkan kehangatan sosial.
“Jika Al-Qur’an sudah menyentuh hati, maka tangan tidak boleh tinggal diam. Kami ingin majelis ini menjadi rumah yang hangat, tempat ilmu tumbuh dan kasih sayang bergerak.”
Sementara itu, Bunda Khidmah AKQ, Irma Fitri, Amd, menegaskan bahwa amanah sosial ini akan dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Tidak harus banyak, tetapi harus konsisten. Satu genggam mungkin kecil, tetapi jika dilakukan bersama dengan niat yang tulus, ia bisa menjadi penopang kehidupan seseorang.”
Pengajian Beut Droe yang selama ini menjadi ruang refleksi diri kini berkembang menjadi ruang pembentukan solidaritas sosial. Dari majelis kecil itu, lahir keyakinan bahwa mengaji bukan hanya memperbaiki bacaan, tetapi juga memperhalus rasa terhadap sesama.
Gerakan “Khatam dan Peduli” diharapkan menjadi budaya yang terus tumbuh, bukan hanya momentum Ramadhan.
“Kami memulai dari yang sederhana. Dari dapur-dapur kecil, dari genggaman tangan yang mungkin dianggap ringan. Namun jika dilakukan dengan cinta dan istiqamah, insyaAllah ia menjadi cahaya yang menerangi banyak kehidupan,” tutup Ustadz Syamsul Kamal.
Akademi Kehidupan Qur’ani percaya, peradaban tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dari majelis yang hidup dan hati yang tergerak. Dan mungkin, dari satu genggam beras yang disisihkan dengan doa.
(Tri Rahmat Ramadhan)