Makan Bergizi Gratis (MBG) Belum Menyentuh 14 Desa dan 12 Sekolah di Kecamatan Kembang Tanjong, Warga Tagih Janji Prabowo: Sampai Kapan?( Foto ilustrasi Dokumentasi Wartanad.id)
PIDIE ( Wartanad.id)— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto kini dipertanyakan masyarakat di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Aceh. Senin (24/08/2026)
Pasalnya, masyarakat menyebut 14 desa dan 12 satuan pendidikan di Kecamatan Kembang Tanjong belum merasakan manfaat program MBG, meskipun program tersebut telah berjalan dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah pusat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat. Jika MBG dirancang untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan makanan bergizi, mengapa masih ada sekolah dan wilayah desa yang disebut belum tersentuh distribusi?
Pertanyaan tersebut semakin kuat karena pihak sekolah dan kader Posyandu disebut telah berulang kali mempertanyakan kepastian distribusi kepada pihak dapur MBG yang berada di wilayah Kembang Tanjong.
Namun masyarakat mengaku masih menunggu jawaban yang benar-benar memberikan kepastian.
Sampai kapan harus menunggu?
12 Sekolah Masih Menanti
Sedikitnya 12 satuan pendidikan yang disebut belum menerima manfaat MBG berada di wilayah Kembang Tanjong.
Sekolah dan lembaga pendidikan tersebut meliputi:
1. RA Nurul Islami Aron
2. RA Nurul Mukmin Gampong Asan
3. RA Al Hidayah Tgk Pasie, Mns. Krueng
4. RA Miftahul Jannah Lancang
5. PAUD Rahma Jurong Mesjid
6. PAUD Nurussalam Lamkawe
7. PAUD Salba Taib Keurumbok
8. TK Jurong Mesjid
9. SMK Al Aziziyah Reung-Reung
10. SD Negeri Pasie Lhok
11. SD Negeri Jeumeurang
12. SD Negeri Pusong
Keberadaan sekolah-sekolah tersebut memperlihatkan bahwa persoalan MBG di Kembang Tanjong menyentuh berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah kejuruan.
Artinya, persoalan ini bukan hanya mengenai satu kelompok usia.
Ada anak-anak usia dini, siswa sekolah dasar, hingga siswa SMK yang disebut masih menunggu kepastian mengenai program makanan bergizi tersebut.
Kader Posyandu dan Kepala Sekolah Disebut Berkali-kali Bertanya
Yang menjadi sorotan masyarakat adalah adanya pihak-pihak di lapangan yang disebut sudah berulang kali meminta kepastian.
Kader Posyandu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat disebut terus mempertanyakan kapan program tersebut dapat dirasakan oleh kelompok sasaran.
Begitu pula para kepala sekolah yang membutuhkan kepastian mengenai jadwal dan mekanisme distribusi MBG kepada siswa.
Pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana.
Kapan MBG mulai didistribusikan?
Jika memang belum bisa disalurkan, apa kendalanya?
Jika sudah masuk dalam daftar penerima, mengapa sampai sekarang belum menerima?
Dan jika kapasitas dapur menjadi persoalan, kapan pemerintah menyiapkan solusi agar seluruh sekolah sasaran dapat terlayani?
Masyarakat tidak membutuhkan jawaban yang berputar-putar.
Mereka membutuhkan kepastian.
Program Nasional Jangan Hanya Terlihat di Atas Kertas
MBG merupakan program besar yang membutuhkan pengelolaan dan distribusi yang tidak sederhana.
Masyarakat memahami hal tersebut.
Namun, pemahaman terhadap kendala teknis tidak berarti masyarakat harus menerima ketidakjelasan tanpa batas waktu.
Justru karena MBG merupakan program prioritas pemerintah, pelaksanaannya harus dapat dipantau secara terbuka.
Masyarakat berhak mengetahui sekolah mana yang sudah menerima, sekolah mana yang belum, berapa kapasitas dapur yang tersedia, serta apa alasan sebuah wilayah belum mendapatkan distribusi.
Jangan sampai program yang dirancang untuk pemerataan gizi justru menimbulkan kesan adanya ketimpangan dalam pelaksanaan.
Sebab bagi masyarakat di desa, ukuran keberhasilan MBG bukanlah berapa banyak pemberitaan tentang program tersebut.
Ukuran keberhasilannya sangat sederhana:
Apakah makanan bergizi itu benar-benar sampai kepada anak-anak mereka atau tidak?
Anak-Anak Tidak Bisa Menunggu Tanpa Kepastian
Persoalan gizi bukan sesuatu yang seharusnya dipandang sepele.
Anak-anak berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan yang baik.
Karena itu, ketika program MBG dijadikan salah satu instrumen pemerintah untuk mendukung pemenuhan gizi, masyarakat tentu berharap manfaatnya dapat dirasakan secara merata.
Di Kembang Tanjong, suara masyarakat kini semakin jelas.
Mereka bukan menolak program.
Mereka justru menuntut agar program tersebut benar-benar berjalan sesuai tujuan.
Orang tua ingin anak-anak mereka mendapatkan makanan bergizi.
Guru membutuhkan kepastian agar dapat memberikan informasi yang benar kepada siswa dan orang tua.
Kader Posyandu membutuhkan kejelasan agar tidak terus-menerus menjawab pertanyaan masyarakat dengan kalimat “masih menunggu”.
Dan masyarakat desa membutuhkan bukti bahwa program nasional tersebut benar-benar hadir di wilayah mereka.
“Pak Prabowo, Sampai Kapan Kami Menunggu?”
Keluhan masyarakat Kembang Tanjong pada akhirnya mengarah kepada Presiden Prabowo Subianto.
Bukan karena masyarakat meminta program baru.
Bukan pula karena masyarakat meminta perlakuan khusus.
Mereka hanya ingin program MBG yang telah menjadi program prioritas pemerintah benar-benar sampai ke desa dan sekolah mereka.
«“Pak Presiden Prabowo, kami tidak meminta program baru. Kami hanya meminta kepastian agar program MBG yang sudah menjadi program pemerintah benar-benar sampai ke desa dan sekolah kami.”»
Pertanyaan tersebut patut mendapat perhatian.
Sebab program nasional akan kehilangan makna apabila masyarakat di tingkat paling bawah hanya mendengar namanya, tetapi belum merasakan manfaatnya.
Pemerintah Diminta Jangan Diam
Pemerintah daerah, pihak pelaksana MBG dan pengelola dapur MBG di Kecamatan Kembang Tanjong diharapkan segera memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Setidaknya ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab secara terbuka.
Pertama, apakah 12 satuan pendidikan tersebut sudah masuk dalam daftar penerima MBG?
Kedua, jika sudah terdaftar, mengapa distribusi belum dilakukan?
Ketiga, apakah persoalannya berada pada kapasitas dapur, distribusi, pendataan, anggaran atau kendala teknis lainnya?
Keempat, kapan jadwal pasti MBG mulai disalurkan ke sekolah-sekolah tersebut?
Kelima, bagaimana pemerintah memastikan wilayah desa yang belum tersentuh tidak terus menunggu tanpa batas waktu?
Jawaban atas pertanyaan tersebut penting agar tidak muncul dugaan bahwa pelaksanaan MBG belum berjalan secara merata.
Bukan Sekadar Kritik, Warga Menuntut Pemerataan
Masyarakat Kembang Tanjong pada dasarnya tidak sedang mempersoalkan keberadaan program MBG.
Sebaliknya, mereka ingin program tersebut sukses.
Namun keberhasilan tidak cukup hanya dengan membangun dapur, menyediakan anggaran atau memproduksi makanan.
Program tersebut baru benar-benar berhasil apabila makanan bergizi sampai kepada penerima yang dituju secara tepat waktu, tepat sasaran dan berkelanjutan.
Jika masih ada sekolah yang menunggu, maka persoalan tersebut harus segera dicari jalan keluarnya.
Jika masih ada desa yang belum mendapatkan manfaat, maka pemerintah harus menjelaskan kapan masyarakat di wilayah tersebut akan dilayani.
Jangan biarkan masyarakat terus bertanya sementara tidak ada kepastian.
Kini Masyarakat Menunggu Respons Presiden
14 desa dan 12 sekolah di Kembang Tanjong disebut masih menunggu manfaat MBG.
Kepala sekolah bertanya.
Kader Posyandu bertanya.
Orang tua bertanya.
Masyarakat bertanya.
Dan pertanyaan mereka pada akhirnya sama:
“PROGRAM MBG UNTUK KAMI, KAPAN?”
Masyarakat berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Presiden Prabowo Subianto juga diharapkan memberikan perhatian agar pelaksanaan program MBG tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi benar-benar menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.
Sebab anak-anak di Kembang Tanjong adalah bagian dari generasi Indonesia.
Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pemenuhan gizi.
Program MBG jangan hanya menjadi janji yang terdengar dari pusat.
Buktikan bahwa program tersebut benar-benar sampai ke desa.
Pak Presiden Prabowo Subianto, masyarakat Kembang Tanjong sedang menunggu respons: sampai kapan mereka harus menunggu MBG?


