-->
  • Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Ketua YPPI apresiasi Muzakarah internasional ulama tauhid sufi ke 2

    Sep 26, 2026, 9:01 PM WIB Last Updated 2026-09-26T14:02:11Z
    Wartanad.id - BANDA ACEH — Pelaksanaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat persatuan, perdamaian dan ukhuwah umat Islam, khususnya di Aceh. Kegiatan yang menghadirkan ulama dan tokoh keilmuan Islam dari berbagai daerah hingga mancanegara tersebut dinilai sejalan dengan semangat menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat kegiatan keislaman dan peradaban Islam di kawasan.

    Muzakarah yang digagas oleh Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) tersebut mengangkat tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat.” Tema tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan umat saat ini, terutama dalam menghadapi berbagai perbedaan pemahaman dan dinamika sosial yang berpotensi memengaruhi persatuan masyarakat.

    Ketua Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), Ustadz Syamsul Kamal, menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai forum internasional seperti ini memiliki nilai strategis karena mempertemukan ulama, tokoh agama dan masyarakat dalam ruang keilmuan, dialog serta silaturahmi.

    “Ini adalah kegiatan yang sangat mulia karena membawa pesan tauhid, tasawuf, persatuan dan perdamaian umat. Kita patut memberikan apresiasi terhadap setiap ikhtiar yang menghadirkan ulama dan membuka ruang perjumpaan untuk memperkuat ukhuwah,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.

    Ia mengajak seluruh ulama, tokoh agama dan masyarakat di Indonesia, khususnya Aceh, untuk memberikan ruang dan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang membawa pesan perdamaian dan persatuan umat.

    Menurutnya, perbedaan dalam persoalan keilmuan hendaknya tidak serta-merta menjadi alasan untuk saling menjauh atau menolak suatu kegiatan. Perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk melakukan tabayyun, berdialog dan memahami secara langsung apa yang disampaikan oleh para ulama.

    “Kalaupun ada hal-hal yang selama ini belum kita pahami atau terdapat perbedaan dalam persoalan keilmuan, jangan langsung menjadi alasan untuk tidak setuju, apalagi menolak. Mari kita hadir, kita dengarkan, kita kaji dan kita tabayyun,” katanya.

    Apalagi, lanjutnya, Muzakarah tersebut menghadirkan ulama-ulama dari berbagai belahan dunia.

    “Ketika ulama-ulama besar dari berbagai belahan dunia hadir di Aceh, bagi kita ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Ini mutiara keilmuan yang jangan kita lewatkan. Kalau ada yang belum sepaham, mari kita saksikan dan dengarkan langsung. Dengan begitu, kita bisa memahami persoalannya secara lebih utuh,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.

    Sejalan dengan Visi Aceh Islami

    Ustadz Syamsul Kamal juga melihat kegiatan tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni sejalan dengan arah visi pembangunan Aceh yang mengusung “Aceh Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan.”

    Visi tersebut, sebagaimana tercantum dalam dokumen visi, misi dan program pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf–Fadhlullah yang diumumkan KIP Aceh, dijabarkan antara lain melalui misi menjalankan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat secara kaffah.

    Menurut Ustadz Syamsul Kamal, visi tersebut membutuhkan gerakan nyata dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya pembangunan fisik dan kebijakan pemerintahan, tetapi juga penguatan pendidikan keislaman, pengkajian ilmu agama, pembinaan akhlak, zikir, ukhuwah dan kehidupan spiritual masyarakat.

    “Kalau kita bicara Aceh Islami dan pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah, maka yang kita bangun bukan hanya aspek fisiknya. Kita juga harus membangun manusianya, ilmu dan akhlaknya, memperkuat hubungan ulama dengan masyarakat serta menghadirkan ruang-ruang yang dapat mempertemukan umat dalam suasana yang damai,” jelasnya.

    Ia juga mengaitkan semangat tersebut dengan gagasan Syiah Kuala Islamic Center yang pernah disampaikan dalam penyampaian visi-misi Muzakir Manaf dan Fadhlullah. Dalam penyampaian tersebut, Syiah Kuala Islamic Center digagas sebagai bagian dari konsep Aceh Islami, termasuk sebagai pusat manasik haji untuk masyarakat Nusantara hingga Asia Tenggara.

    “Menurut saya, Muzakarah Internasional ini juga dapat menjadi salah satu langkah lanjutan dalam menghidupkan gagasan besar tersebut. Sebab sebuah Islamic Center tidak cukup hanya dibangun secara fisik, tetapi harus dihidupkan dengan kegiatan keilmuan, zikir, pengkajian tauhid dan tasawuf, pendidikan umat, pertemuan para ulama, pembinaan masyarakat dan kegiatan yang memperkuat ukhuwah,” katanya.

    Ia menambahkan, kehadiran ulama dari berbagai negara dalam Muzakarah tersebut dapat menjadi modal penting bagi Aceh untuk memperkuat posisi sebagai ruang perjumpaan keilmuan Islam dan kebudayaan umat.

    “Kalau Aceh ingin menjadi salah satu pusat kegiatan keislaman di kawasan, maka ruang-ruang seperti ini harus terus dihidupkan. Ulama datang, berdiskusi, bermuzakarah dan bertukar ilmu. Masyarakat juga mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung,” ungkapnya.

    MPTT-I dan Kontribusi terhadap Persatuan Umat

    Lebih lanjut, Ustadz Syamsul Kamal menilai langkah MPTT-I dalam menghadirkan forum internasional tersebut dapat menjadi bagian dari kontribusi masyarakat dalam memperkuat persatuan dan perdamaian umat.

    Ia berharap kegiatan seperti ini tidak dilihat hanya sebagai acara seremonial, tetapi dapat menjadi ruang berkelanjutan untuk mempertemukan ulama dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

    “Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menjaga persatuan dan kedamaian masyarakat. Tetapi pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Ulama, tokoh agama dan masyarakat juga memiliki peran. Karena itu, setiap kegiatan yang mendorong persatuan, perdamaian, pendidikan umat dan penguatan nilai-nilai Islam patut kita dukung sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

    Menurutnya, kontribusi MPTT-I melalui kegiatan keagamaan dan keilmuan juga dapat membantu menciptakan suasana sosial yang lebih sejuk dan memperkuat hubungan antarelemen masyarakat.

    “Kalau ada kegiatan yang membawa ulama, mengajak umat berdialog, mengajarkan tauhid, tasawuf dan mengangkat pesan perdamaian, tentu ini menjadi bagian dari energi masyarakat yang dapat membantu pemerintah dalam menjaga kerukunan dan persatuan,” katanya.

    Ia kembali mengingatkan agar perbedaan dalam persoalan keilmuan tidak berkembang menjadi perpecahan.

    “Jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan. Kalau ada yang tidak sepaham, mari bertabayyun. Hadir, dengarkan, kaji dan pahami. Kita boleh berbeda dalam persoalan keilmuan, tetapi persaudaraan dan kedamaian umat harus tetap kita jaga,” tegasnya.

    Ustadz Syamsul Kamal berharap Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 dapat memberikan manfaat yang luas bagi Aceh, Indonesia dan dunia Islam.

    “Semoga kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar besar untuk menghadirkan Aceh yang semakin Islami, damai, bersatu dan bermartabat. Semoga gagasan besar tentang pusat kegiatan keislaman, zikir, pengkajian ilmu dan manasik haji dapat terus dikembangkan dan diwujudkan dengan langkah-langkah nyata,” tuturnya.

    “Semoga Allah memberikan keberkahan kepada para ulama yang terus berikhtiar menjaga tauhid, memperkuat ukhuwah dan menghadirkan perdamaian. Semoga Allah meridhai setiap langkah yang ditempuh untuk kebaikan umat dan Aceh,” tutup Ustadz Syamsul Kamal.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini