Wartanad.id | GORONTALO – Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr Ir Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng, hadir di Pekan Nasional Petani Nelayan XVII PENAS XVII 2026 di Gorontalo, 10-15 Juni 2026. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, tapi misi, menyerap inovasi pertanian-nasional lalu “menularkannya” ke petani Aceh.
PENAS XVII jadi ajang silaturahmi terbesar petani-nelayan se-Indonesia. Ada 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, puluhan ribu peserta. Kadistanbun Aceh memanfaatkan panggung itu untuk 3 hal: belajar teknologi, buka jejaring pasar, dan angkat potensi komoditas unggulan Aceh.
“Petani Aceh nggak boleh jalan di tempat. Lewat PENAS ini kami bawa pulang semangat , teknologi baru. Harapannya produktivitas naik, biaya turun, petani makin sejahtera,” kata Kadistanbun Aceh di sela kegiatan.
1. *Teknologi & Mekanisasi Pertanian*
Kadistanbun Aceh kelilingi 200, stand inovasi: drone sprayer hemat pestisida, alat tanam padi otomatis, mesin perontok jagung portable, hingga sensor tanah pintar. Fokusnya cari alat yang cocok untuk lahan Aceh: miring, rawa, dan hujan tinggi.
“Drone semprot 10 hektar 2 jam. Kalau ini masuk ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, petani kopi bisa hemat tenaga + waktu,” ujarnya.
2. *Hilirisasi & Pengolahan Hasil*
Salah satu kelemahan petani Aceh: jual bahan mentah, harga ditekan tengkulak. Di PENAS XVII, Kadistanbun Aceh studi banding ke booth petani sukses yang sudah punya merek sendiri: kopi bubuk siap seduh, abon ikan, tepung mocaf dari singkong.
“Ilmunya kami copy: dari pasca panen , kemas,branding ,masuk marketplace. Petani Aceh punya pala, kopi, kakao. Sayang kalau cuma dijual biji,” jelasnya.
3. *Jejaring Pasar & Kemitraan*
PENAS juga jadi “bursa” antara petani dengan BUMN, startup agritech, dan eksportir. Kadistanbun Aceh buka dialog dengan 3 perusahaan pupuk organik, 2 e-commerce pertanian, dan 1 buyer kopi specialty dari Timur Tengah.
“Kami perkenalkan ‘Aceh Coffee & Spice Corridor’. Tujuannya biar buyer langsung tembak ke kelompok tani, bukan lewat banyak tangan,” katanya.
Meski datang untuk belajar, kontingen Aceh juga “jual diri”. Di anjungan Aceh, ditampilkan produk unggulan:
- *Kopi Arabika Gayo* yang sudah Geographical Indication
- *Pala Banda* kualitas ekspor
- *Padi rawa pasang surut* khas Aceh Utara & Aceh Timur
Stand Aceh ramai dikunjungi karena ada demo seduh kopi Gayo + kuliner berbahan pala. Ini jadi cara soft diplomacy: orang kenal Aceh lewat rasa, lalu tertarik kerja sama.
Kepada awak media ini, Kadistanbun Aceh titip pesan untuk petani di kampung:
“PENAS buktikan petani itu keren. Ada petani milenial omzet 1M dari cabai, ada ibu-ibu tani ekspor rumput laut. Kuncinya: mau belajar + mau pakai teknologi. Dinas siap jadi jembatan. 2026 ini kami fokus pelatihan, bantuan alsintan tepat guna, dan akses pasar.”
Sepulang dari Gorontalo, Kadistanbun Aceh rancang “Roadshow Inovasi Tani Aceh”. Tim ahli alsintan demo akan keliling 23 kabupaten/kota. Gampong yang siap berubah jadi prioritas.
“Jangan sampai Aceh cuma jadi penonton. Kita harus jadi pemain. Petani Aceh hebat, lahannya subur, tinggal dikasih ‘ilmu + alat’ yang tepat,” tutupnya.
PENAS XVII ditutup Presiden RI 15 Juni 2026. Kontingen Aceh pulang bawa ratusan kontak, katalog inovasi, dan semangat baru: bertani itu bisnis modern, bukan kerja kasar.

