Wartanad.id - Banda Aceh - Transparansi Tender Indonesia (TTI) mengungkap hasil analisis terhadap data realisasi pengadaan Dinas Sosial Aceh yang menunjukkan adanya konsentrasi perolehan pekerjaan pada sejumlah penyedia baik dari sisi nilai kontrak maupun jumlah paket yang diperoleh selama tahun anggaran berjalan.ujar Nasruddin Bahar koordinator TTI (30/06)
Sambungnya,Berdasarkan nilai kontrak, ARKHA KARYA tercatat sebagai penyedia terbesar dengan total nilai pekerjaan mencapai Rp14,83 miliar. Posisi berikutnya ditempati YUK UTAMA KREATIF sebesar Rp10,23 miliar, ARIF PUTRA JUANG Rp9,07 miliar, AWWAB KORPORET ABADI Rp8,22 miliar, dan ACEH PRIMA TEHNIK Rp6,58 miliar.
Sementara itu, peringkat selanjutnya ditempati ISAN KARYA ABADI dengan nilai kontrak Rp6,10 miliar, ANUGERAH ABADI Rp5,12 miliar, TUTOH ENJA Rp4,98 miliar, WIRATAMA TRACONINDO SENTOSA Rp4,64 miliar, serta INDOMULTI MITRA SENTOSA sebesar Rp3,77 miliar.ucap Nasruddin bahar
Di sisi lain, jika ditinjau berdasarkan jumlah paket yang diperoleh, YUK UTAMA KREATIF dan CV. PENTAGONAL CONSULTANT berada di posisi teratas dengan masing-masing memperoleh lima paket pekerjaan. Selanjutnya CV. DWI DIMITRA, CV. AL-KAUTSAR CONSULTANT, Amanah Berkarya Consultant, CV. ALKIN CONSULINDO MANDIRI, dan CV. WAHANA UTAMA CONSULTANT masing-masing memperoleh empat paket.kata Nasruddin Bahar
Kemudian SABANG PAPUA INDAH, ISAN KARYA ABADI, dan INDOMULTI MITRA SENTOSA masuk dalam kelompok penyedia dengan tiga paket pekerjaan.
Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, menegaskan bahwa dominasi sejumlah penyedia tersebut belum dapat disimpulkan sebagai pelanggaran. Namun pola konsentrasi perolehan pekerjaan merupakan indikator yang perlu mendapat perhatian dari Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan lembaga pengawas lainnya untuk memastikan seluruh proses pengadaan berlangsung secara kompetitif, transparan, dan akuntabel.
Menurut TTI, terdapat fakta menarik bahwa ARKHA KARYA menjadi penyedia dengan nilai kontrak terbesar, namun tidak termasuk dalam daftar penyedia dengan jumlah paket terbanyak. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memperoleh paket-paket dengan nilai yang relatif besar. Sebaliknya, YUK UTAMA KREATIF tidak hanya menempati posisi kedua berdasarkan nilai kontrak, tetapi juga menjadi salah satu penyedia dengan jumlah paket terbanyak.
TTI merekomendasikan dilakukan penelusuran lebih lanjut terhadap pola kemenangan penyedia, kesamaan alamat perusahaan, keterkaitan kepemilikan, hubungan afiliasi antar perusahaan, serta kesamaan personel inti yang digunakan dalam proses pengadaan. Langkah tersebut penting untuk memastikan prinsip persaingan usaha yang sehat tetap terjaga dan setiap rupiah anggaran negara memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Hasil analisis ini menjadi bagian dari upaya pengawasan publik terhadap pengelolaan pengadaan barang dan jasa pemerintah guna mendorong tata kelola yang lebih transparan, efisien, dan bebas dari praktik yang berpotensi merugikan keuangan negara.tutup Nasruddin bahar