• Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Imam Sapi'ie atau Bang Pi'ie, Seorang Jagoan, Bandit, Tentara, Menteri, hingga akhirnya Namanya Dilekatkan Menjadi Nama Jalan di Jakarta

    Azhar
    Jul 7, 2022, 11:09 PM WIB Last Updated 2022-07-07T17:21:34Z

    WARTANAD.ID - Imam Sapi'ie, seorang jagoan, bandit, tentara, menteri, hingga akhirnya namanya dilekatkan menjadi salah satu nama ruas jalan di Jakarta belum lama ini. Begitulah sosok Imam Sapi'ie dikenal.


    Bermula dari jagoan kawasan Pasar Senen, ia masuk laskar dan bergabung dengan Divisi Siliwangi.


    Nama jagoan Senen tersebut ditulis berbeda dalam berbagai buku. Ada yang menulisnya dengan Imam Syafe'i, Sapi'ie, dan Sjafei. Namun, ia kesohor dengan panggilan Bang Pi'ie.


    Wartawan senior Rosihan Anwar mencatat awal mula perkenalan sang jagoan tersebut dengan laskar atau badan perjuangan Angkatan Pemuda Indonesia (API).


    Dua pimpinan API wilayah Senen, yakni Rachman Zakir dan Daan Anwar yang tengah berada di markasnya dikepung kelompok Pi'ie.


    "Dengan berpakaian sarung, bertopi cepiau, pedang di tangan, diikuti oleh anak buahnya yang membawa golok, tombang bambu rucing," kata Rosihan dalam bukunya, Kisah-Kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan: Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 7. Kutipan dari Pikiran Rakyat,(7/7/2022)


    Pi'ie berang bukan main. Ia memaki kedua pemuda pemimpin API Senen tersebut dan mengajaknya berkelahi kalau betul-betul jantan.


    Namun, Rosihan tak menjelaskan musabab apa hingga Pi'ie naik pitam. Zakir dan Daan pun menganggap sepi ancaman Pi'ie. Mereka bahkan mengajak sang jagoan berjuang bersama melawan Belanda.


    "Kalau kau betul-betul mau berjuang, mari berjuang bersama kami melawan Belanda. Itulah musuh kau dan bukan kami," ucap Daan.


    Sejak itu, menurut Rosihan, Pi'ie bergabung dengan pasukan API daerah Senen. Ia kemudian masuk tentara hingga mencapai pangkat Letnan Kolonel serta diangkat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet 100 Menteri Presiden Soekarno pada 1966.


    Perjalanan Pi'ie erat kaitannya dengan dunia hitam Jakarta.


    "Ia adalah salah satu pentolan paling berkuasa di wilayah Pasar Senen dengan organisasinya OPI (Oesaha Pemoeda Indonesia) yang menjaga perempatan Senen," kata Robert Cribb dalam bukunya, Para Jago Dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.


    Kepopuleran Pi'ie juga disebutkan dalam H Misbach Yusa Biran dalam buku Kenang-Kenangan Orang Bandel.


    "Anak muda ABG ini dikenal sangat berani dalam menghadapi Belanda," kata Misbach.


    Ia merupakan pemimpin pemuda di sekitar Pasar Senen yang sebagian besar terdiri dari anak-anak nakal.


    Dari cerita yang didengar Misbach, Pi'ie merupakan anak yatim piatu yang sejak kecil gelandangan dan ada yang menyebut dirinya menjadi pencopet kecil di pasar sayur Senen.


    "Dari cerita saya dengar bahwa si Pi'i (Pi'ie) punya pistol dan kalau menembaki Belanda dia paling depan," kata Misbach.


    Selepas Belanda keluar dari Indonesia pada 1950, tentara Siliwangi asal Jakarta pulang ke Jakarta. Demikian pula dengan batalion pimpinan Mayor Pi'ie.


    "Sebagian besar dari kesatuan ini harus diberhentikan dari TNI karena tidak memenuhi persyaratan pendidikan. Memang sebagian besar dari mereka tidak berpendidikan dan buta huruf," kata Misbach.


    Namun, hal tersebut bisa menimbulkan persoalan apabila mereka sakit hati karena diberhentikan dari TNI. Dikhawatirkan, muncul banyak penjahat berpengalaman bertempur dan memakai senjata api.


    "Jalan keluarnya adalah Pak Pi'i (Pi'ie) tetap di TNI dan anak buahnya yang dipecat ditampung dalam perkumpulan Cobra yang tugas utamanya menjadi penjaga keamanan di sekitar Pasar Senen. Nama perkumpulan dibikin serem, ular Cobra," kata Misbach.


    Menurut Misbach, Cobra berkembang sangat cepat dan menguasai wilayah Jatinegara hingga Ancol, Tanah Abang sampai Cempaka Putih. Perkumpulan tersebut akhirnya juga menjadi tempat berlindung para tukang copet, orkes-orkes Melayu hingga para banci.


    "Jangan coba ganggu banci, bisa babak belur. Kalau kecopetan di Pasar Senen, bilang saja pada tokoh Cobra. Dalam waktu singkat barang akan kembali," kata Misbach.


    Ia mengenang Pi'ie dengan sosok yang bertubuh kecil dengan wajah simpatik kearaban. Wajah jagoan dan pejuang kemerdekaan itu juga dihiasi kumis kecil.


    "Sikap lakunya sopan. Sama sekali tidak terbayang bahwa dia adalah pemberani pada masa perang kemerdekaan dan membawahi orang-orang hitam," ucapnya.


    Salah satu cerita kehebatannya adalah saat dirinya bersama pasukan Siliwangi mendobrak pertahanan musuh dalam pemberontakan PKI pada peristiwa Madiun 1948.


    Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan dari kapten menjadi mayor. Capaian yang paling monumental tentunya kala Pi'ie diangkat menjadi Menteri Negara Keamanan Rakyat di ujung kekuasaan Presiden Soekarno. Ya, urusan keamanan seolah menjadi jalan hidup jagoan Senen tersebut.***

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini