Wartanad.id | Bireuen – Potret memprihatinkan terlihat jelas di SD Negeri 14 Peudada, Kabupaten Bireuen. Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk menuntut ilmu, kini justru terlihat rusak parah, terbengkalai, dan mengkhawatirkan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik. Kondisi bangunan yang memburuk ini kontras dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertuang dalam poster semboyan pendidikan yang masih tergantung di dinding yang mulai rapuh.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, terlihat kerusakan yang sangat signifikan di hampir seluruh bagian gedung sekolah. Bagian atap dan plafon terlihat ambruk dan lepas, papan-papan penutup dinding terkelupas dan menggantung tidak beraturan, cat dinding mengelupas habis, serta struktur bangunan terlihat lapuk dimakan usia tanpa ada perbaikan berarti.
Tidak hanya bangunan utama, fasilitas penunjang sekolah seperti tembok pembatas dan sanitasi juga rusak parah. Dinding tembok terlihat retak besar dan terancam rubuh, sementara lingkungan sekolah tampak ditumbuhi semak belukar karena jarang tersentuh perawatan.
Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat di dinding sekolah masih terpajang foto-foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta tulisan semangat pendidikan yang berbunyi: “Mencerminkan Tindakan Menghargai Kerjasama, Bahu Membahu Menyelesaikan Persoalan Bersama”.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Alih-alih mendapatkan perhatian dan perbaikan, sekolah ini justru terabaikan. Warga sekitar dan orang tua siswa mengaku sudah lama menyampaikan keluhan terkait kondisi bangunan yang rawan bahaya, namun hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk menangani permasalahan ini.
“Kami sangat khawatir, setiap hari anak-anak kami belajar di gedung yang kondisinya seperti ini. Bisa saja kapan saja bagian bangunan jatuh atau rubuh dan membahayakan nyawa mereka. Sudah berkali-kali kami sampaikan, tapi tidak ada respon dan tidak ada perbaikan. Apakah pendidikan di sini tidak diprioritaskan lagi?” ujar salah satu orang tua siswa dengan nada kecewa.
Pihak sekolah pun mengaku kesulitan melakukan perbaikan sendiri karena keterbatasan anggaran. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima hanya cukup untuk kebutuhan operasional rutin, tidak mampu menutup biaya pemugaran gedung yang nilainya besar. Akibatnya, kerusakan makin meluas dan kondisi bangunan makin berisiko.
Kondisi memprihatinkan SD Negeri 14 Peudada ini menjadi bukti nyata ketimpangan pembangunan pendidikan di Kabupaten Bireuen. Di satu sisi pemerintah gencar menggaungkan wajib belajar dan peningkatan kualitas pendidikan, namun di sisi lain fasilitas dasar sekolah justru dibiarkan rusak dan tidak layak pakai.
Masyarakat dan orang tua siswa kini berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen dan pemerintah daerah segera turun tangan. Diperlukan audit mendalam dan alokasi anggaran khusus untuk memperbaiki total bangunan sekolah ini agar kembali layak digunakan. Anak-anak berhak mendapatkan tempat belajar yang aman, nyaman, dan layak, sesuai amanat undang-undang dan cita-cita bangsa.
Jika dibiarkan terus, dikhawatirkan kerusakan akan semakin parah dan biaya perbaikan pun makin membengkak. Lebih dari itu, risiko keselamatan dan nyawa siswa serta guru yang berada di dalamnya adalah taruhan yang tidak boleh ditawar lagi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun tanggapan dari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen terkait kondisi memprihatinkan yang menimpa SD Negeri 14 Peudada tersebut.

