-->
  • Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Proyek Pompanisasi Perpipaan Gampong Panto Bili Tidak Berfungsi, Kajari Diminta Turun Tangan

    Azhar
    Jun 30, 2026, 8:22 PM WIB Last Updated 2026-06-30T13:26:04Z
    Anggaran Rp 490 Juta Dikelola Dinas Pertanian Bireuen, Petani Gagal Tanam karena Kekurangan Air.
     
    Wartanad.id | Bireuen — Proyek strategis pengadaan dan pemasangan sistem pompanisasi perpipaan lengkap beserta sarana pendukung di Gampong Panto Bili, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen, senilai Rp 490.000.000 dinilai gagal berfungsi sebagaimana mestinya. 

    Meskipun anggaran sudah dicairkan dan pekerjaan dinyatakan selesai, sistem tersebut belum dapat digunakan secara maksimal untuk mengairi sawah. Akibatnya, ratusan hektare lahan pertanian kekeringan dan para petani terpaksa gagal tanam, sementara kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik terkait pengawasan dan tanggung jawab pengelola proyek.
     
    Proyek Bernilai Miliaran, Belum Memberikan Manfaat Nyata.
     
    Proyek ini dibiayai dari Dana Operasional Kegiatan (DOKA) dengan tujuan utama menyediakan pasokan air irigasi yang andal agar produktivitas pertanian di wilayah itu meningkat dan petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada musim hujan. Namun kenyataan di lapangan masih jauh dari harapan.
     
    “Pompa dan pipanya sudah terpasang secara fisik, tapi saat dicoba tidak bisa mengalirkan air dengan lancar. Entah apa penyebabnya, yang jelas sampai saat ini sawah tetap kering dan kami gagal tanam musim ini,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya kepada tim liputan.
     
    Selama ini, kondisi proyek yang belum berfungsi optimal sempat dibiarkan begitu saja, sehingga memicu anggapan bahwa Dinas Pertanian selaku pemilik program terkesan tidak peduli dan lepas tangan.
     
    Dugaan Kejanggalan di Lapangan.
     
    Dari pantauan warga dan pengamat pembangunan, muncul sejumlah pertanyaan dan kecurigaan:

    Kualitas Pekerjaan Dipertanyakan
    Masyarakat meragukan standar teknis yang digunakan, mulai dari spesifikasi mesin pompa, kualitas pipa, hingga kedalaman saluran hisap. Diduga ada kemungkinan pengerjaan dilakukan tidak sesuai rencana teknis.
     
    Pengawasan Sebelum Serah Terima Lemah
    Proyek sudah dinyatakan selesai dan diterima, padahal fungsinya belum teruji sepenuhnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah penilaian hanya didasarkan pada penampakan fisik saja?
     
    Dampak Langsung Merugikan Petani
    Dana hampir setengah miliar rupiah sudah dikeluarkan, namun manfaatnya belum terasa. Petani justru menanggung kerugian akibat gagal tanam dan hilangnya biaya persiapan lahan.
     
    Tanggapan Resmi Kepala Dinas Pertanian.
     
    Terpisah, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Ir. Mulyadi, S.E., M.M. memberikan penjelasan berbeda.
     
    “Miris kali kalau dibilang Distanbun tutup mata. Terus saja kami perbaiki. Sebenarnya proyek ini sudah selesai dibangun, tapi pada akhir tahun 2025 silam terjadi banjir besar yang menerjang lokasi. Akibatnya, klep dan saluran air tertutup lumpur tebal sehingga sistem tidak bisa berjalan normal. Ini bukan karena kualitas bangunannya buruk, tapi dampak bencana alam,” jelasnya.
     
    Mulyadi menambahkan bahwa proyek masih dalam masa pemeliharaan dan pihaknya sudah menurunkan tim teknis untuk membersihkan saluran dan memperbaiki bagian yang terganggu.
     
    “Kami pastikan dalam minggu ini sistem pompanisasinya sudah bisa berfungsi kembali dengan baik. Masih ada tanggung jawab pemeliharaan dari pelaksana, jadi kami tidak membebani anggaran tambahan untuk perbaikan ini,” tegasnya.

    Desakan Audit dan Pengawasan.
     
    Meskipun sudah ada penjelasan dari dinas, elemen masyarakat dan pengawas tetap mendesak langkah verifikasi lebih lanjut agar kebenaran dapat dipastikan:
     
    🔹 Kejaksaan Negeri Bireuen (Kajari).
     
    - Lakukan audit untuk memeriksa kesesuaian perencanaan, spesifikasi, dan kualitas pekerjaan awal.
    - Verifikasi apakah kerusakan atau gangguan yang terjadi benar‑benar murni akibat bencana atau ada faktor lain.
    - Pastikan tidak ada kerugian keuangan daerah akibat pengerjaan yang tidak sesuai standar.
     
    🔹 Dinas Pertanian & Perkebunan.
     
    - Publikasikan laporan lengkap proses perbaikan dan hasil uji coba setelah selesai dikerjakan.
    - Berikan bukti tertulis bahwa pekerjaan awal sudah memenuhi standar teknis sebelum terkena dampak banjir.
     
    🔹 DPRK Bireuen & Masyarakat.
     
    - Lakukan pemantauan bersama saat sistem diuji coba nanti untuk memastikan benar‑benar berfungsi.
    - Pastikan ada jaminan pemeliharaan jangka panjang agar proyek tidak kembali menjadi aset mati.
     
    Air adalah nyawa bagi pertanian. Baik karena faktor bencana maupun faktor teknis, yang terpenting adalah hasil akhirnya: proyek ini harus benar‑benar berfungsi dan memberi manfaat sesuai tujuan pembangunannya.
     
    Penjelasan dari dinas harus dibuktikan dengan kinerja nyata di lapangan. Jika dalam waktu yang dijanjikan pompanisasi sudah bisa mengairi sawah secara lancar, maka kepercayaan masyarakat akan pulih. Jika tidak, maka pertanyaan tentang kualitas pekerjaan dan tanggung jawab pengelolaan anggaran akan semakin menguat.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini