-->
  • Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Panen Perdana Bawang Merah di Lahan Pascabanjir, Bank Indonesia Aceh Membangun Model Pemulihan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pertanian bersama Pemkab Pidie Jaya dan USK

    Jul 8, 2026, 7:52 PM WIB Last Updated 2026-07-08T12:52:35Z
    Wartanad.id - Pidie Jaya, 7 Juli 2026 – Lahan persawahan yang sebelumnya tertimbun pasir dan lumpur akibat banjir bandang kembali produktif dan menghasilkan komoditas bawang merah. Hal tersebut dicapai melalui komitmen Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya, dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat. Bertempat di Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, Selasa (7/7/2026), BI dan Pemkab Pidie Jaya menggelar panen perdana bawang merah sebagai bagian dari Program Percontohan Budidaya Tanaman Rotasi Bawang Merah, yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana bagi kelompok sektor pertanian dan garam terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Kegiatan tersebut juga disertai dengan penandatanganan komitmen penguatan klister pertanian dalam rangka menjaga stabilitas inflasi dan pemulihan ekonomi pasca bencana hidrometeorologi oleh Bank Indonesia Aceh, Pemkab Pidie Jaya, Universitas Syiah Kuala (USK), dan Satuan Tugas Rekonstruksi.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pemulihan ekonomi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya pertanian sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan lahan terdampak bencana, tetapi juga mendorong masyarakat agar dapat kembali berproduksi, memperoleh penghasilan, serta meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

    Program Percontohan Budidaya Tanaman Rotasi Bawang Merah di Pidie Jaya merupakan hasil sinergi Bank Indonesia bersama Pemkab Pidie Jaya, USK, dan kelompok tani setempat, yang terlibat langsung mulai dari pemetaan lahan hingga pendampingan kelompok, dengan menerapkan praktik Good Agricultural Practices (GAP) yang sesuai, antara lain penggunaan bibit varietas unggul, mulsa, dan dekomposer organik, sehingga mudah direplikasi oleh kelompok terdampak lainnya. “Melalui pendampingan dan praktik GAP yang berkelanjutan, lahan bekas banjir diharapkan tidak hanya sekadar memanen bawang, tetapi juga membangun model pemulihan ekonomi masyarakat berbasis pertanian,” ujar Agus Chusaini. Pengembangan demplot bawang merah dilakukan pada lahan seluas lima hektar yang tersebar di sejumlah lokasi dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

    Selain bawang merah, turut dikembangkan komoditas cabai dan jagung sebagai bagian dari proyek percontohan untuk mengidentifikasi jenis tanaman yang paling sesuai dibudidayakan pada lahan bekas banjir. Budidaya bawang merah dinilai memiliki prospek ekonomi yang lebih baik dibandingkan menunggu revitalisasi lahan dan penanaman padi Kembali. Budidaya bawang merah diharapkan juga dapat menjaga stabilitas harga mengingat komoditas ini menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi (volatile foods) di Aceh. Bank Indonesia memastikan dukungan tidak berhenti pada masa tanam, namun akan berlanjut pada pendampingan pascapanen, pelatihan pengolahan hasil pertanian, hingga pembukaan akses pemasaran melalui agregator agar hasil panen petani memiliki nilai tambah yang lebih baik.

    Keberhasilan panen perdana ini tidak lepas dari pendampingan teknis tim Fakultas Pertanian USK yang dilibatkan sejak tahap awal untuk memastikan lahan bekas banjir tetap layak dibudidayakan. Guru Besar Fakultas Pertanian USK, Prof. Rina Sriwati, menyampaikan bahwa pendampingan diawali dengan survei kondisi lahan dan analisis kandungan unsur hara tanah yang tertimbun material banjir, sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan, penyediaan nutrisi tanaman, sistem penyiraman menggunakan sprinkler, hingga pengendalian hama dan penyakit. Hasil produksi panen akan terus dievaluasi sebagai dasar pengembangan program lanjutan.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, menyampaikan bahwa panen perdana ini menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian pascabanjir bandang, seraya berharap program serupa terus berlanjut, mengingat bawang merah dan cabai merupakan komoditas strategis yang berkontribusi pada pengendalian inflasi daerah. Pemkab Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh saat ini juga tengah menyiapkan rehabilitasi gratis bagi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir, agar petani dapat kembali bercocok tanam secepatnya.

    Bupati Pidie Jaya, yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, mengapresiasi upaya tersebut “Program ini merupakan bagian dari pembinaan Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus pengendalian inflasi daerah melalui pengembangan komoditas strategis. Ini merupakan program dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah. Lahan ini adalah sawah masyarakat yang terdampak cukup berat akibat banjir hidrometeorologi”.

    Optimisme turut dirasakan langsung oleh petani penerima manfaat. Muhammad Nurdin, anggota Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh, mengaku sempat kehilangan harapan ketika sawahnya tertutup pasir dan lumpur akibat bencana, namun berkat pendampingan dan bantuan dari berbagai pihak, keluarganya kini dapat kembali memanen bawang merah sebagai harapan baru untuk bangkit pascabencana.

    Pada masa tanggap darurat, Bank Indonesia Aceh bersama Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) telah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa sembako, beras, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya ke wilayah terdampak, termasuk Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Tengah (Takengon), sekaligus mempercepat pemulihan layanan perbankan dan memastikan ketersediaan uang Rupiah layak edar bagi masyarakat di tengah kondisi darurat.

    Lebih lanjut, penyaluran bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani merupakan wujud komitmen Bank Indonesia dalam mendukung percepatan pemulihan roda perekonomian yang sempat terhenti akibat bencana, melalui implementasi bauran kebijakan Bank Indonesia di daerah berupa pengembangan klaster pangan strategis untuk menjaga stabilitas harga dan pengendalian inflasi melalui ketersediaan pasokan, serta mendukung program ketahanan pangan nasional dalam kerangka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

    Hingga pertengahan tahun 2026, Bank Indonesia Provinsi Aceh telah menyalurkan bantuan sarana prasarana budidaya pertanian dan produksi kepada 7 (tujuh) kelompok sektor pertanian hortikultura dan garam, serta bantuan sarana penunjang pendidikan melalui program Edukasi Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan (EPML) kepada 2 (dua) lembaga pendidikan dayah di wilayah terdampak bencana di Pidie dan Pidie Jaya.

    Ke depan, Bank Indonesia Aceh bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh optimis bahwa sinergi lintas sektor dalam program percontohan pertanian pascabencana di Pidie Jaya ini menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain, guna mempercepat pemulihan ekonomi petani, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga stabilitas harga komoditas strategis di Aceh.

    Pada kegiatan tersebut, turut hadir Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Wilayah Aceh selaku Tim Satgas Bencana, Safuadi; Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim; Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Aceh, Chairil Anwar; Direktur Bisnis USK, Afdal; jajaran Forkopimda Kabupaten Pidie Jaya, para penyuluh, serta kelompok tani binaan Bank Indonesia Aceh.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini