-->
  • Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Bendungan Blang Kumot Lhok Adan Jebol Dihantam Arus Deras Krueng Tiro, 800 Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam

    Fauzal
    Sep 29, 2026, 12:10 AM WIB Last Updated 2026-09-28T23:25:04Z

     

    Bendungan Blang Kumot Lhok Adan Jebol Dihantam Arus Deras Krueng Tiro, 800 Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam.( Foto Dokumentasi Wartanad.id)


    SIGLI, Wartanad.id | Bendungan Blang Kumot Lhok Adan di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, yang menjadi salah satu sumber utama pengairan areal persawahan masyarakat, jebol setelah dihantam derasnya arus Krueng Tiro.


    Kerusakan bendungan tersebut kini menimbulkan kekhawatiran serius bagi petani. Pasalnya, sekitar 800 hektare areal persawahan yang tersebar di sejumlah gampong di Kecamatan Sakti dan Kemukiman Lam Ujong terancam tidak mendapatkan suplai air pada musim tanam yang segera dimulai. Selasa ( 29/09/2026)


    Informasi yang dihimpun menyebutkan, kerusakan mulai terjadi pada Kamis malam, 24 September 2026 sekitar pukul 23.00 WIB. Kondisi bendungan kemudian semakin parah setelah hujan deras mengguyur wilayah Pidie dan Aceh dalam beberapa hari terakhir.


    Derasnya debit Krueng Tiro disebut menghantam konstruksi bendungan hingga mengalami patah dan kerusakan berat. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air menuju jaringan persawahan terganggu bahkan terputus.


    Bagi petani, kerusakan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Jika suplai air tidak segera dipulihkan, ancaman gagal tanam dan kekeringan di areal persawahan menjadi persoalan nyata yang harus segera ditangani.


    Pemkab Pidie Turun Langsung


    Menindaklanjuti laporan dari Kecamatan Sakti, Pemerintah Kabupaten Pidie melalui BPBD dan Dinas Pertanian dan Pangan langsung melakukan peninjauan ke lokasi pada Senin, 28 September 2026.


    Plt. Kalak BPBD Pidie, Apriadi Ahmad, S.Sos, yang juga Asisten II Setdakab Pidie, bersama Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie H. Hasballah, S.P., M.M., turun langsung melihat kondisi bendungan.


    Keduanya turut didampingi pejabat Dinas PUPR Pidie, Camat Sakti, Kejruen Blang, Mukim Cot Murong serta sejumlah keuchik dari wilayah terdampak.


    Hasil peninjauan menunjukkan kondisi bendungan mengalami kerusakan cukup parah. Material dan sampah yang terbawa arus banjir juga sebelumnya sempat menumpuk di kawasan Neulop Reubee dan telah dibersihkan menggunakan alat berat milik Dinas PUPR Pidie.


    Perbaikan Darurat Dikebut, Musim Tanam Sudah di Depan Mata


    Pemkab Pidie menyatakan tidak ingin persoalan tersebut berlarut-larut. Apalagi jadwal olah tanah dan musim tanam sawah telah berada di depan mata.


    Plt. Kalak BPBD Pidie, Apriadi Ahmad, mengatakan pemerintah daerah akan mengambil langkah penanganan darurat sambil menunggu penanganan permanen dari pihak yang memiliki kewenangan.


    «“Kita hari ini bersama dinas terkait sudah ke lokasi bendungan di Blang Kumot Lhok Adan, Sakti. Mulai besok, perbaikan bendungan segera dikerjakan secara darurat, mengingat musim tanam olah tanah sawah dimulai pada awal Oktober ini,” tegas Apriadi.»


    Menurutnya, penanganan permanen terhadap bendungan tersebut merupakan kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, sementara pemerintah daerah akan berupaya melakukan langkah darurat agar kebutuhan air petani tidak semakin terganggu.


    800 Hektare Sawah Terancam Tidak Mendapat Air


    Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, H. Hasballah, menegaskan bahwa dampak kerusakan bendungan sangat besar terhadap sektor pertanian.


    Pasokan air dari Krueng Tiro menjadi kebutuhan utama bagi ribuan petani yang menggantungkan aktivitas pertanian pada jaringan irigasi tersebut.


    «“Ketika bendungan ini tidak berfungsi, suplai air ke areal persawahan terhenti total. Petani tidak bisa lagi mengalirkan air dari Krueng Tiro,” jelas Hasballah.»


    Ia menyebutkan sekitar 800 hektare areal sawah yang tersebar di puluhan gampong berpotensi tidak mendapatkan aliran air.


    Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan berdampak langsung terhadap musim tanam apabila kerusakan tidak segera ditangani.


    Menunggu Penanganan Permanen BWS Sumatera I


    Di tengah upaya perbaikan darurat oleh Pemkab Pidie, perhatian kini juga diarahkan kepada pemerintah provinsi dan BWS Sumatera I.


    Apriadi menyampaikan bahwa BWS Sumatera I telah menyatakan kesiapan membantu penanganan melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Aceh.


    «“BWS Sumatera I akan membantu supaya ditangani Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh,” ungkap Apriadi.»


    BWS Sumatera I juga telah berkoordinasi dengan PPK Bidang Perairan Dinas PUPR Pidie agar segera menyusun laporan mengenai tingkat kerusakan bendungan.


    Sementara Dinas Pertanian dan Pangan diminta menyiapkan data mengenai luas areal pertanian yang terdampak.


    Petani Kini Menunggu Kepastian


    Kerusakan Bendungan Blang Kumot Lhok Adan menjadi ujian serius bagi pengelolaan infrastruktur pengairan di tengah ancaman terganggunya musim tanam.


    Pemerintah daerah telah menyatakan akan melakukan penanganan darurat. Namun, langkah tersebut menjadi penting untuk segera diwujudkan di lapangan mengingat waktu musim tanam semakin dekat.


    Di sisi lain, perbaikan permanen membutuhkan keterlibatan pihak berwenang, khususnya BWS Sumatera I.


    Bagi ratusan petani yang mengandalkan aliran Krueng Tiro, persoalannya sederhana: air harus kembali mengalir sebelum sawah memasuki musim tanam.


    Jika bendungan tidak segera dipulihkan, bukan hanya bangunan yang rusak yang menjadi persoalan, tetapi juga terancamnya produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat di wilayah Sakti.


    (FH01Wartanad.id)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Kriminal

    +