-->
  • Jelajahi

    Copyright © WARTANAD.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Aceh

    Selamatkan Saree, Bangun Destinasi Baru di Kaki Seulawah

    Oct 1, 2026, 3:46 PM WIB Last Updated 2026-10-01T08:46:36Z
     
    Wartanad.id - Banda Aceh - TAHUN 2000 ke bawah, saat melintasi kawasan kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar, para pengendara mobil sering mematikan AC karena hawa dingin alami dari luar bisa menembus masuk ke dalam kabin kendaraan. Dulu, deretan pondok bambu dengan kepulan asap jagung bakar, aroma khas tape singkong, hingga tumpukan keripik renyah beraneka rasa selalu berhasil memaksa roda kendaraan berhenti. Saree bukan sekadar tempat perlintasan. Ia adalah ruang singgah yang hidup, tempat detak ekonomi petani dan ratusan UMKM berputar tanpa henti.Kawasan Saree adalah sebuah oase memori. Namun, hilangnya hawa sejuk legendaris Saree tidak terjadi dalam satu malam, melainkan akibat akumulasi beberapa faktor, seperti perubahan iklim, pembukaan lahan, alih fungsi lahan, pembangunan permukiman, dan berbagai aktivitas pembangunan lainnya.

    Ternyata, roda zaman berputar lebih cepat dari jarum jam dan detak jantung. Kehadiran Jalan Tol Banda Aceh-Sigli (Sibanceh) membawa berkah berupa konektivitas dan kecepatan mobilitas antarkabupaten. Ironisnya, di sisi lain, infrastruktur modern ini menjadi pisau bermata dua bagi Saree.

    Jalur arteri lama kini kian lengang. Kendaraan dari Banda Aceh menuju Pidie atau sebaliknya kini melesat di atas jalur tol, melewati Saree begitu saja, termasuk saya. Efeknya instan sekaligus menyakitkan: omzet pedagang keripik merosot tajam, warung-warung makan mulai tutup, dan Saree perlahan bertransformasi menjadi kawasan yang "mendekati kota mati" yang sunyi.

    Apakah kita harus pasrah membiarkan Saree yang legendaris dengan Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong tenggelam dalam sepi?

    Pesawat pertama yang dibeli Indonesia dari hasil sumbangan harta dan emas rakyat Aceh bernama Dakota RI-001 Seulawah. Pesawat berjenis Douglas DC-3 Dakota ini dibeli pada pertengahan tahun 1948. Pembelian dilakukan setelah Presiden Soekarno berorasi di Hotel Kutaraja (Banda Aceh) untuk membangkitkan nasionalisme dan mengetuk hati para saudagar serta masyarakat Aceh agar membantu membelikan alat transportasi udara pertama bagi Indonesia.

    Menanggapi seruan tersebut, rakyat Aceh yang digerakkan oleh tokoh-tokoh lokal yang dipimpin Daud Beureueh, termasuk salah satu patriot penyumbang utamanya, Teungku Nyak Sandang, bergotong royong mengumpulkan sumbangan hingga terkumpul dana setara 20 kilogram emas.

    Tentu kita tidak akan membiarkan Saree mati. Alternatif solusi untuk menyelamatkan Saree bukan dengan menutup jalan tol, melainkan dengan mengubah mindset kawasan dari yang dulunya "tempat singgah karena terpaksa melintas" menjadi "destinasi utama yang sengaja dituju". Jawabannya ada pada satu konsep integratif masa depan: SAREE: Agro-Edu-Tourist-Forest-Technopark.

    Saree merupakan jantung dari Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Berdasarkan data BPS Aceh Besar 2026, kecamatan ini terdiri atas 12 gampong dengan jumlah penduduk 13.824 jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 2,48 persen. Dengan basis data demografi tersebut, Saree memiliki modal tenaga kerja lokal produktif yang melimpah.

    Penduduk di 12 desa ini mayoritas bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perdagangan UMKM. Potensi inilah yang akan menjadi penggerak utama, bukan sekadar penonton, saat konsep Agro-Edu-Tourist-Forest-Technopark ini diimplementasikan.

    Menyatukan lima pilar

    Konsep Agro-Edu-Tourist-Forest-Technopark bukanlah istilah keren yang kosong. Ini adalah strategi mengawinkan lima potensi terbesar Saree ke dalam satu lingkaran ekonomi sirkular; pertanian, pendidikan, pariwisata, kehutanan, dan teknologi.

    Dari sisi pertanian (agro), Saree diberkahi dengan tanah vulkanik yang subur dan iklim mikro pegunungan yang sangat sejuk, yang cocok untuk pertanian.

    Dari sisi pendidikan (edu), ini adalah modal paling unik yang tidak dimiliki daerah lain di Aceh. Saree adalah "kampus alam" raksasa. Di sini berdiri instansi pendidikan dan kediklatan strategis, di antaranya SPN (Sekolah Polisi Negara) Seulawah, SMK Pembangunan Pertanian (SMK PP) Negeri Saree, Balai Diklat Pertanian, hingga UPTD Balai Benih Hortikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (BBHTPP).

    Dari sisi pariwisata (tourist), keindahan alam pegunungan, hawa yang masih menyisakan sedikit kesejukan, serta indahnya pemandangan menjadi modal pariwisata Saree. Selain itu, terdapat beberapa potensi wisata lainnya, seperti air terjun yang masih perawan, bahkan pusat latihan gajah yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sektor pariwisata bertindak sebagai magnet penarik masyarakat.

    Dari sisi kehutanan (forest), potensi ini didukung oleh keberadaan Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan dan hutan wisata. Pesona hutan konservasi ini dapat berjalan beriringan dengan pertanian produktif melalui konsep agroforestri.

    Sementara dari sisi teknologi (technopark), melalui sentuhan teknologi modern, mulai dari pertanian presisi menggunakan drone, smart greenhouse, smart farming, hingga digitalisasi pemasaran produk UMKM, Saree dapat naik kelas dari sekadar wisata alam konvensional menjadi wisata berbasis inovasi.
    Menuju "Mekarsari" dan "Brastagi"

    Bogor, Jawa Barat, bangga dengan Taman Wisata Mekarsari sebagai pusat pelestarian buah tropis terbesar, sementara Sumatra Utara memiliki Brastagi yang legendaris dengan pasar buah segar serta pemandangan gunungnya yang memikat. Maka, Saree mempunyai kelayakan mutlak untuk menjadi gabungan dari keduanya di Aceh.

    Bagaimana cara mewujudkannya? Kita harus membuat Mekar Saree. Kawasan ini dirancang agar wisatawan dari Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Lhokseumawe, hingga wilayah Pantai Barat Aceh datang dengan tujuan spesifik: memesan paket wisata memetik buah langsung di kebun, seperti jeruk, buah naga, alpukat, salak madu Saree, stroberi, dan bunga-bungaan; berkemah edukatif di Taman Pramuka Seulawah; melihat pusat pelatihan gajah; atau melakukan trekking menyusuri keindahan air terjun di dalam Tahura sambil menikmati dan mensyukuri indahnya ciptaan Sang Pencipta. Kegiatan religius juga bisa diciptakan di kawasan Saree dan sekitarnya.

    Di sisi lain, seluruh sarana pendidikan yang ada di Saree diintegrasikan sebagai laboratorium hidup. Wisatawan pelajar dan mahasiswa tidak hanya datang untuk jalan-jalan, tetapi juga belajar teknik pembibitan modern di UPTD BBHTPP, melihat pengolahan hasil panen di SMK PP Saree, atau melakukan simulasi pelatihan kepemimpinan dan outbound di kawasan SPN Seulawah.

    Technopark akan menjembatani hasil riset balai diklat langsung ke petani lokal. Hasilnya? Petani Saree tidak lagi sekadar menjual singkong mentah. Melalui inkubasi bisnis berbasis teknologi di kawasan technopark, mereka mampu memproduksi berbagai varian produk turunan yang lebih premium.

    Penjual keripik, tape, dan pelaku UMKM lainnya yang terpukul akibat tol akan ditata kembali dalam sebuah Rest Area Khusus & Pusat Kuliner Terpadu yang estetik dan terhubung langsung secara informasi digital di pintu keluar tol terdekat.

    Untuk memancing ketertarikan mereka kembali, pemerintah daerah bersama komunitas lokal harus menginisiasi kalender kegiatan rutin, seperti "Saree Agro & Eco Festival" tahunan, kompetisi trail run melintasi jalur Tahura, hingga pasar tani digital setiap akhir pekan atau setiap bulan.

    Saree harus dicitrakan kembali di media sosial bukan lagi sebagai jalur yang dilewati, melainkan sebagai pusat healing, learning, dan sharing terbaik di Aceh.

    Dalam bukunya Economic Theory and Under-developed Regions (1957), ekonom Gunnar Myrdal menjelaskan teori Kausalitas Sirkular Kumulatif. Kehadiran jalan tol Sibanceh berpotensi memicu backwash effect (dampak menguras), di mana modal, SDM, dan daya tarik ekonomi tersedot ke pusat kota besar, seperti Banda Aceh atau Sigli, meninggalkan Saree dalam kemunduran.

    Melalui Agro-Edu-Tourist-Forest-Technopark, kita membalikkan keadaan tersebut menjadi spread effect (dampak menyebar). Saree diposisikan sebagai magnet baru yang justru menarik kembali aliran uang dan orang dari kota-kota besar tersebut untuk berbelanja, belajar, dan berwisata di kaki Gunung Seulawah.

    Gagasan ini juga relevan dengan Teori Agropolitan yang dikembangkan oleh John Friedmann dan Mike Douglass (1978) dalam tulisan Agropolitan Development: Towards a New Strategy for Regional Planning in Asia. Teori ini menekankan pentingnya memasukkan fasilitas, teknologi, dan kenyamanan perkotaan ke wilayah pedesaan agar pembangunan lebih merata.

    Agro-Edu-Tourist-Forest-Technopark menerapkan prinsip ini secara presisi: masyarakat perkotaan datang ke desa untuk menikmati keasrian alam, namun petani desa tetap produktif menghasilkan produk bernilai tinggi karena ditopang oleh teknologi modern (technopark). [
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini